Menuju Filipina yang Tangguh terhadap Iklim: Memanfaatkan Teknologi dan Pembiayaan Karbon untuk Reforestasi

Menuju Filipina yang Tangguh terhadap Iklim: Memanfaatkan Teknologi dan Pembiayaan Karbon untuk Reforestasi

Filipina merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, namun juga termasuk yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Selama beberapa dekade terakhir, tekanan dari penebangan liar, pertambangan, serta praktik pertanian tebang-bakar telah menyebabkan degradasi hutan yang serius. Saat ini, diperkirakan hanya sekitar 3% hutan primer tua yang masih tersisa secara nasional. Kondisi ini tidak hanya mengancam ekosistem alami, tetapi juga memperbesar risiko bencana alam dan meningkatkan emisi karbon.

Pulau Panay, yang terletak di wilayah Visayas Barat, menjadi contoh nyata dari tantangan tersebut. Kawasan hutannya mengalami penurunan signifikan, mengakibatkan hilangnya habitat satwa endemik, terganggunya sistem air, meningkatnya risiko longsor, serta banjir di wilayah hilir. Untuk mengatasi masalah ini, pendekatan reforestasi konvensional tidak lagi cukup. Diperlukan integrasi antara ilmu pengetahuan, teknologi canggih, pembiayaan berkelanjutan, dan partisipasi masyarakat.

Peran Teknologi dalam Reforestasi Modern

Dalam beberapa tahun terakhir, diskusi nasional di Filipina semakin menyoroti peran teknologi dalam mempercepat pemulihan hutan. Penggunaan drone, pemetaan berbasis kecerdasan buatan (AI), dan sistem pemantauan digital memungkinkan perencanaan reforestasi yang lebih presisi dan adaptif.

Pada Desember 2025, sebuah forum penting diadakan di Iloilo yang mempertemukan lembaga pemerintah, akademisi, militer, dan organisasi masyarakat sipil. Forum ini membahas bagaimana teknologi dapat diterapkan untuk memulihkan lanskap Panay yang terdegradasi. Acara tersebut diselenggarakan oleh Sulu Garden Foundation (SGF), sebuah organisasi nirlaba berbasis di Panay yang fokus pada restorasi ekologi dan reforestasi berbasis komunitas.

Teknologi seperti drone memungkinkan pemetaan wilayah yang sulit dijangkau, penilaian kesesuaian lahan, serta pemantauan tingkat kelangsungan hidup bibit secara real-time. Hal ini menjadi terobosan besar dibandingkan metode manual yang mahal, lambat, dan berisiko di medan terjal.

Sulu Garden Foundation dan Pendekatan Berbasis Ilmu Pengetahuan

SGF mengembangkan pendekatan reforestasi yang berlandaskan riset ilmiah dan kebutuhan lokal. Fokus utama organisasi ini meliputi:

Restorasi ekologi berbasis penelitian, dengan pemilihan spesies pohon yang sesuai dengan kondisi tanah dan iklim setempat.

Pengelolaan hutan berbasis komunitas, memastikan masyarakat lokal menjadi penjaga utama kawasan hutan.

Pembiayaan berkelanjutan melalui kredit karbon, yang menghubungkan hasil ekologis dengan insentif ekonomi jangka panjang.

Dengan mengaitkan penanaman pohon pada hasil penyerapan karbon yang terukur, upaya restorasi tidak hanya berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim, tetapi juga membuka peluang pendapatan bagi masyarakat dan pemilik lahan. Model ini memungkinkan inisiatif kecil di tingkat lokal terhubung dengan strategi iklim nasional dan global.

Tantangan Program Reforestasi Konvensional

Pemerintah Filipina telah menjalankan berbagai program penghijauan, termasuk Program Penghijauan Nasional (National Greening Program/NGP). Pada tahun 2022 saja, hampir dua juta bibit ditanam di ribuan hektare lahan. Namun, banyak evaluasi menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan jangka panjang sering kali rendah, dengan tingkat hidup bibit kurang dari 50%.

Masalah utama meliputi kurangnya pemantauan pascatanam, pemilihan spesies yang tidak sesuai, kebakaran hutan, serta minimnya keterlibatan masyarakat. Tantangan ini semakin besar di wilayah terpencil, curam, dan rawan konflik lahan. Oleh karena itu, diperlukan alat presisi, perencanaan adaptif, dan koordinasi lintas sektor.

Pegunungan Panay Tengah: Pusat Keanekaragaman Hayati

Pegunungan Panay Tengah membentang sekitar 100 kilometer dengan ketinggian mencapai lebih dari 2.000 meter. Kawasan ini merupakan salah satu hotspot keanekaragaman hayati Filipina, rumah bagi banyak spesies endemik yang terancam punah. Deforestasi dan praktik pertanian tidak berkelanjutan telah mempercepat erosi tanah dan memperburuk banjir di wilayah dataran rendah.

Reforestasi di kawasan ini membutuhkan strategi yang meniru proses regenerasi alami. Salah satu pendekatan yang dibahas adalah reforestasi hibrida, yaitu mengombinasikan spesies pionir yang tumbuh cepat dengan pohon asli yang tumbuh lebih lambat namun bernilai ekologis tinggi.

Kolaborasi Internasional: Teknologi Drone dari Ukraina

Kerja sama internasional juga memainkan peran penting. Filipina dan Ukraina tengah menjajaki kolaborasi dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi drone. Awalnya dirancang untuk pertahanan dan penelitian, teknologi ini memiliki potensi besar dalam restorasi lingkungan.

SGF berencana menguji penggunaan drone untuk pemetaan, penyebaran benih, dan pemantauan pertumbuhan hutan. Dalam forum di Iloilo, perwakilan Ukraina dan Filipina mendiskusikan bagaimana AI dan drone dapat mendukung reforestasi hibrida, terutama di medan sulit.

Para penasihat teknis menyebutkan bahwa dengan teknologi ini, tingkat kelangsungan hidup bibit berpotensi meningkat hingga lebih dari 80%, tergantung pada kondisi lokasi dan kombinasi spesies. Selain itu, drone memungkinkan deteksi dini terhadap kebakaran, serangan hama, atau penebangan ilegal, sehingga respons dapat dilakukan dengan cepat.

Pembiayaan Karbon dan Kerangka Kebijakan

Dimensi penting lainnya adalah pembiayaan karbon. Kredit karbon terverifikasi memberikan imbalan finansial atas karbon dioksida yang diserap oleh hutan yang dipulihkan. Dana ini dapat digunakan untuk pemeliharaan jangka panjang, pelatihan masyarakat, dan pemantauan ekologi.

Kredit berkualitas tinggi memerlukan sistem Measurement, Reporting, and Verification (MRV) yang ketat. Teknologi drone dan AI sangat membantu dalam pengumpulan data yang akurat dan konsisten, sehingga hasilnya dapat diterima di pasar karbon global.

Filipina juga tengah memformalkan kebijakan harga karbon melalui rancangan undang-undang yang bertujuan menciptakan pasar karbon nasional. Kerangka ini akan memungkinkan perusahaan dan lembaga pemerintah membeli atau memperdagangkan kredit karbon, sekaligus menyalurkan dana ke proyek berbasis alam seperti reforestasi.

Integrasi Teknologi, Komunitas, dan Kebijakan

Keberhasilan reforestasi jangka panjang bergantung pada integrasi tiga elemen utama: teknologi, masyarakat, dan kebijakan. Pelatihan operator drone lokal, forester, dan relawan menjadi langkah penting untuk membangun kapasitas jangka panjang. Keterlibatan komunitas memastikan perlindungan hutan setelah proyek penanaman selesai.

Langkah-langkah lanjutan yang diidentifikasi meliputi:

Implementasi percontohan pemetaan dan penyebaran benih dengan drone.

Penelitian ekologis untuk menentukan kombinasi spesies terbaik.

Pelatihan sistem MRV untuk mendukung pasar karbon.

Integrasi dengan insentif kebijakan nasional.

Menuju Hutan yang Tangguh terhadap Iklim

Pemulihan hutan Panay adalah proyek jangka panjang yang memerlukan kolaborasi lintas sektor, pendanaan berkelanjutan, dan perencanaan berbasis sains. Inisiatif SGF dan kolaborasi teknologi internasional menandai era baru, di mana teknologi canggih dimanfaatkan untuk meningkatkan ketahanan ekologi.

Seiring berkembangnya pasar karbon nasional dan kebijakan pendukung, upaya reforestasi di Filipina berpotensi menjadi lebih berkelanjutan dan berdampak luas. Model yang menggabungkan pengetahuan global, kearifan lokal, dan dukungan kebijakan ini dapat direplikasi di wilayah lain yang menghadapi tantangan deforestasi serupa.